So You Married An Entrepreneur

30 Apr

I read a very good article about marrying an entrepreneur. It’s very helpful for my future husband or for me if i marry another entrepreneur :D

Why, yes you did.

You married an entrepreneur.

You married an unending source of ideas and passion…the eternal optimist.

You may not have known it at the time, but you agreed to travel down an ever-changing path of life.

In fact, you’re probably traveling down multiple paths at once.

You married a person who considers sleep as optional.

How about money? Oh yeah, that thing that entrepreneurs periodically think about.

Yes, there will be countless moments when your spouse appears unfocused, spread too thin, and/or distracted by impossible dreams. (In most cases, you’re probably right!)

You will try to reason with them, challenge them, and even periodically guilt them into taking a more stable route in life, but you know how that goes…

You will find yourself rolling your eyes from time to time at their next “new big opportunity” and their inevitable “I’m so close” mantra.

Don’t give up.

Don’t forget what attracted you to your spouse. I’m sure that it had something to do with the life-giving energy and passion you saw in them.

Don’t forget that there are a small minority people in our world that can wake up each morning looking forward to engaging their vocation. Your spouse is one of them.

Don’t forget that you are the most treasured individual in their life. They may appear too busy or distant at times, but know that deep inside they often do think about you and are motivated by their love for you.

Don’t forget that they need you to believe in them, encourage them, and speak the truth in love. Small acts of care and support can make a world of difference for them.

Life’s an adventure (whether or not you want it to be).

Plus, what fun would it be if you were married to a person who just knew exactly what to do all of the time?

Stability is overrated and in my opinion, a mirage.

Embrace your spouse and enjoy the journey.

Celebrate the ideas that are implemented and learn from those that don’t.

Communicate often and honestly without becoming pessimistic.

Refuse to give up the thought that we truly can live out our passions.

So, you married an entrepreneur? Good.

Charles Lee

Love is a CHOICE

17 Feb

“Love is making a choice every single day, to either love or not love. That’s it. It’s that simple. Either to continue the process or not. We fall in and out of love. This doesn’t mean we don’t love the person. It means we are left with a choice. There is a difference between feeling love for someone (caring about a person) and loving someone (choosing to love that person). You may have love for someone forever. But that doesn’t mean you choose to love that person forever. The choice to love is not a feeling; it is an action. That is why it is so difficult. It requires you to do something, and I’m not just talking about buying flowers. It might mean putting your wants aside. Also, like chemistry, the ability to love is not a constant. It is a variable. It fluctuates, depending on where you’re at in your life and what you’re struggling with. Sometimes it is easy to love. Sometimes it is extremely difficult. But at the end of the day, it’s always a choice.” – John Kim

Source

The Road Not Taken ~ Robert Frost

9 Jan

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear,
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I marked the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I,
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

 

Surat untuk Suami Masa Depanku

1 Jan

Di hari pertama tahun 2013, aku ingin mengukir sejarah dalam hidupku dengan menulis surat pertama untuk suami masa depanku. Sebenarnya aku masih sedikit bingung, apakah akan menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia. Namun, kupikir aku ingin menyentuh lebih banyak pembaca Indonesia sekaligus mengasah kemampuan bahasaku (Bahasa Indonesia itu tidak mudah loh!). Aku masih bingung juga mencari pengganti kata “Dear” pada “Dear My Future Husband” jadi aku akan menghapus saja kata “Dear” itu.

Baiklah, mari kita mulai surat pertama tepat tanggal 1 Januari 2013. 

Suami Masa Depanku, 

Apakah kabarmu hari ini? Oh tidak, aku ingin tahu kabarmu detik ini? Detik ketika kutulis kata kabar pada surat ini :)

Aku tahu kamu pasti sudah terlelap tidur karena kamu lelah beraktivitas seharian. Kamu mungkin baru pulang dari perjalananmu selama libur panjang di akhir tahun 2012 atau kamu baru saja membantu orang tuamu membersihkan rumah yang telah diramaikan oleh para kerabat yang datang berkunjung. Atau mungkin kamu sama sepertiku yang selalu tidur tengah malam. Sejak kecil, aku sudah sulit sekali tidur dibawah jam 10 malam. Mungkinkan ada pengaruh dari namaku yang artinya “Malam” ini? Atau apakah aku adalah orang yang beruntung diberikan kecerdasan tinggi yang kata para ilmuwan akan semakin aktif di malam hari sehingga mereka sulit tidur cepat? 

Dimanakah kamu saat ini? Maksudku di kota apakah kamu saat ini? Apakah kamu tinggal hanya satu blok dari rumahku atau kamu tinggal bermil-mil jauhnya bahkan aku harus melintasi samudera untuk bertemu denganmu? Apakah kamu tinggal sendiri atau bersama keluargamu? Tentu kamu sayang mereka bukan? Aku tidak pernah memandang sebelah mata pada pria yang sudah dewasa, tetapi tetap memilih tinggal bersama keluarganya. Aku tahu itu bukan tanda kelemahan karena kamu memilih tetap tinggal di rumah agar kamu dapat terus melayani dan menjaga mereka. Bukan karena kamu tidak percaya Allah subhnahu wa ta’ala akan melindungi mereka, tetapi kamu sama sepertiku, kamu ingin memaksimalkan baktimu pada mereka karena kamu tahu suatu hari nanti kamu akan meninggalkan rumah itu dan memulai hidup sendiri, bersamaku. 

Akan tetapi, bila kamu sekarang berada di tengah perantauan, aku pun sangat mengagumi pilihanmu. Kamu berani. Kamu meninggalkan kenyamanan untuk melihat dunia. Kamu adalah sosok yang mandiri dan mudah beradaptasi. Kamu juga pasti pandai mengelola keuanganmu karena aku tahu tinggal sendiri tentu jauh lebih banyak godaannya. Bila kamu dapat tetap menjadi orang yang sama seperti ketika kamu dalam pengawasan orang tuamu, maka kamu adalah orang yang pandai mengendalikan hawa nafsumu. Aku sangat menghargai pilihanmu itu.

Tinggal 30 menit lagi bagiku untuk menyelesaikan surat ini sebelum tanggal 1 Januari 2013 berakhir.

Padamu yang masih menjadi misteri bagiku, apakah kamu juga memikirkanku? Apakah kamu sama sepertiku, terus menjaga dirimu dan mencari pasangan yang ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala bagimu, yaitu aku? Kamu tentu tahu, meskipun mereka semua berkata bahwa jodoh tidak akan kemana, kita sebagai manusia haruslah berusaha. Usaha kita tidak harus menurunkan harga agar laku di pasaran. Kita terus memperbaiki diri agar kita tidak mengecewakan satu sama lain ketika kita bersatu nanti. Kita tidak mendengarkan dan menuruti godaan-godaan itu:

“Kamu cantik, kok gak punya pacar?”

“Kamu belum pernah pacaran, pasti kamu belum pernah ciuman ya? Nanti bagaimana tahu pasanganmu ciumannya enak atau tidak?”

“Kamu jangan kerja melulu, pacaran dong!”

“Kamu gila kerja.”

Semua itu adalah beberapa jawaban dan komentar yang kudapat dari mereka yang tidak mengerti pilihan hidupku ini. Kamu tahu kenapa aku menjaga diriku sedemikian rupa? Semua itu untuk kamu. 

Ketika ada pria mengajakku pergi berdua, hal yang langsung terpikir olehku selain rasa takutku pada Allah subhanahu wa ta’ala adalah rasa bersalahku padamu. Aku merasa bersalah bila tidak menjaga diriku untukmu. Aku ingin kamu jadi orang pertama untuk semuanya. Aku sudah cukup dewasa untuk paham bahwa kemampuan ciuman bahkan berhubungan seksual itu sama dengan kemampuan berjalan bahkan bermain piano. Semuanya dapat diasah dengan latihan. Aku tidak perlu melatihnya dengan sembarang pria karena aku tahu kamu tidak akan keberatan belajar bersama denganku. Aku tahu kamu adalah orang yang bijak, orang yang sabar, orang yang penuh keyakinan bahwa suatu hari nanti Allah subhanahu wa ta’ala pasti mempertemukanmu denganku sebagai hadiah untuk ketaatan kita padaNya.

Untuk itu, aku ingin kamu jangan pernah menyerah. Percayalah, Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah salah:

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” – An Nuur : 26

Tidurlah yang nyenyak malam ini. Doaku selalu menyertaimu.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Istri Masa Depanmu 

Kenapa Beberapa Orang Mengalami Kisah Cinta Dramatis?

18 Nov

Sederhana saja, mereka tidak berhitung. Jawabanku dingin dan terlalu logis ya? Tetapi memang itulah kenyataannya. Akan kubuktikan dengan beberapa contoh kasus berikut ini:

  1. A dan B menganut agama berbeda. Tentu untuk menikah akan menghadapi banyak halang rintang. Solusinya: pindah agama (ada yg dikorbankan), menikah beda agama (controversial) atau berpisah .
  2. A dan B masih sekolah atau kuliah. Pihak pria belum punya penghasilan tetap, masih senang nongkrong atau hura-hura, kalau pun ada rumah atau kendaraan pasti subsidi orang tua. Tentu saja mereka akan terbentur dengan pertanyaan, “Mau sampai kapan seperti ini?”. Solusinya: pria selesaikan kuliah dan cari pekerjaan (wanita terus digantung) atau berpisah (wanita cari pria yang sudah mapan)
  3. A dan B bertemu di tempat kerja yang melarang pegawainya menjalin cinta. Solusinya: salah satu pindah tempat kerja atau berpisah. Biasanya meskipun salah satu memilih pindah tempat kerja, pihak yang tertinggal pasti akan sulit juga melanjutkan karena mungkin malu dengan rekan-rekan dan atasan di kantor atau sulit “move on” karena kantor berubah jadi monumen cinta.
  4. A adalah murid dan B adalah guru. Padahal sudah tahu ini melanggar etika dalam masyarakat. Lagi-lagi hati akan dijadikan kambing hitam. Katanya kalau sudah urusan hati, otak tidak lagi berfungsi dengan benar. Sudah pasti orang tua murid akan menentang. Si guru juga akan mendapat kesan negatif. Akan muncul pula kecemburuan dari murid-murid lain karena tentu sulit bagi si guru untuk menjadi objektif dalam proses belajar mengajar terutama dalam pemberian nilai atau ketika memberikan sangsi. Solusinya: A dan B merahasiakan hubungan mereka hingga murid lulus atau berpisah.
  5. A dan B memiliki hubungan yang ditentang orang tua karena berbagai macam alasan. Solusinya: tetap kekeuh meyakinkan orang tua atau berpisah. Bila hanya salah satu orang tua yang tidak setuju, mungkin masih bisa diusahakan. Namun, bila kedua orang tua bahkan saling bermusuhan atau diam-diam tidak suka, itu akan jadi masalah tiada akhir. Bahkan ketika sudah menikah, kedua orang tua yang pada dasarnya memang tidak saling menyukai akan cenderung memberikan solusi subjektif yang mempersulit melanggengkan pernikahan.
  6. A dan B masih memiliki hubungan darah. Entah paman dengan keponakan atau saudara sepupu. Selain akan mendapat pandangan miring masyarakat juga berisiko tinggi pada keturunan mereka yang bisa jadi terlahir cacat karena sisi negatif dari kombinasi biologis dan kimiawi A dan B. Itulah mengapa dianjurkan mencari pasangan yang tidak sedarah.  Solusi: berpisah.
  7. A dan B adalah hakim dengan tersangka, atau pencuri dengan polisi, atau majikan dengan pembantu, atau masih banyak contoh kasus lainnya.

Apakah kesamaan dari semua kasus di atas? Tentu kasus-kasus tersebut sebenarnya dapat dihitung hasil akhirnya. Sudah jelas sebaiknya dihindari, kok masih diteruskan? Tidak mengherankan, banyak orang mengalami kisah cinta dramatis karena ternyata mereka sendiri juga yang menginginkan hidup mereka dramatis.

Sungguh, kisah cinta yang paling indah bukanlah kisah penuh air mata, pertengkaran dan saling menyakiti melainkan kisah yang menenteramkan hati dan membawa kebahagian. Saat dimana A dan B saling menghormati keluarga masing-masing. Saat keluarga kedua belah pihak saling mendoakan kelanggengan pernikahan A dan B. Saat cinta A dan B selalu dilimpahi rahmat Sang Pencipta dan mendatangkan manfaat bagi orang-orang disekitarnya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.