When You Just Know

Laila Shares:

I believe so…

Originally posted on Confessions of a Love Addict:

When Romeo saw Juliet. When Harry met Sally. When Carrie bumped into Mr. Big. When Lancelot sought Guinevere. When John Lennon admired Yoko’s art. When Minnie was created to be next to Mickey. When my dad laid eyes on my mom across a smoky bar in the 1980s.

Of the great love stories I know and admire, they all began because one element of the pair just knew. Regardless if they had actually met them or not, brushed up against their lips, touched their hand, or heard the sweet rhyme of their voice – they still had an inkling that inclined them to believe that this person, this stranger - was the person meant for them.

There were no doubts – and if any thoughts begged questions, they were quickly shot down by reassuring love. Something in them, something that no one can ever put into words…

View original 887 more words

Soundtrack

I don’t know,

It’s strange.

For me, every memory, especially the good one, has its own soundtrack.

It exactly feels like a music video, only without lyrics.

Because no words can describe the remaining feeling.

And people..

They always come and go.

And I..

Remember each one of them.

For they made me who i am today.

THANK YOU

Update Kriteria di Tahun 2014

Kriteria fisik : Tinggi dan berat proporsional.

Kriteria non fisik : Bersedia menerima bahwa saya adalah seorang entrepreneur.

Image

Source

Ehm, inilah kriteria terbaru ku untuk calon suami di tahun 2014. Banyak sekali pengurangannya ya. Apa itu “tinggi dan berat proporsional”? Apalagi kriteria non fisik hanya “Bersedia menerima bahwa saya adalah wanita karier.”! Hmm, jauh sekali dari daftar yang pernah kubuat tahun lalu. Daftar panjang mengenai calon suami idealku.

Tahun 2013 itu luar biasa bagiku! Saat-saat aku mengalami banyak gejolak kejiwaan terutama urusan percintaan (halaaah). Jujur, aku “bertemu” banyak tipe pria. Dari situ akhirnya aku pun belajar menilai pria dari sisi lain. Bila dulu dia harus punya hobi sama denganku, tinggi harus minimal 165 cm, warna kulit harus gelap, fasih Bahasa Inggris, dan lain sebagainya, sekarang aku tidak lagi menyantumkan satu pun kata itu dalam kriteria calon suamiku. Kenapa? Inilah sejumlah alasannya:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” – QS Al-Baqarah : 216

Pria yang punya hobi sama denganku, bertinggi badan 170 cm, berkulit gelap dan fasih Bahasa Inggris itu belum tentu baik bagiku menurut Allah. Ya, belum tentu. Itu kan hanya pendapatku saja sedangkan ilmu ku masih terbatas. Aku bahkan tidak tahu seperti apa masa depanku termasuk ujian apa yang akan kuhadapi kelak. Allah tahu seperti apa masa depanku sehingga Allah tahu rekan seperti apa yang paling cocok mendampingiku.

Nothing is more attractive than a man who adores you for everything you are.

Bila berbicara jujur, wanita akan lebih bahagia menikah dengan pria yang mencintainya daripada dengan pria yang ia cintai. Mengapa begitu? Karena hidup wanita setelah menikah itu berat, Kawan! Selain harus urus manajemen rumah tangga, wanita harus bisa memenuhi semua kebutuhan suaminya, mengasuh dan mendidik anak-anaknya, belum lagi beratnya hamil dan melahirkan. Wanita memang luar biasa bukan? Subhanallah.. Untuk itu, akan sangat baik bila wanita menikah dengan pria yang mencintainya, seorang pria yang menganggapnya sebagai hal terbaik yang bisa ia dapatkan, seorang pria yang mengaguminya dan rela melakukan apa pun untuk membahagiakannya.

Lingkungan keluarga menentukan tipe pasangan ideal kita.

Disadari atau tidak, pola pengasuhan sangat berperan penting terhadap selera kita mengenai lawan jenis. Pria atau wanita biasanya akan cenderung memilih pasangan hidup yang menyerupai Ibu atau Ayah mereka. Bukan berarti mereka memiliki mother atau father complex. Ini hanya sekedar urusan familiarity. Banyak orang mengatakan cinta sejati itu adalah perasaan seperti berada di rumah atau feels like home. Kita sering mendengar opposite attracts, tetapi ini bukan hukum yang absolut. Seorang pria yang berkepribadian cenderung pendiam dan memiliki Ibu yang pendiam akan sangat besar kemungkinannya memilih istri yang juga pendiam. Kita tentu akan berpikir, “Tidakkah ia bosan?”. Ternyata tidak! Ia merasakan familiarity atau perasaan feels like home itu ketika memilih istri yang berkepribadian seperti Ibunya. Begitu pula dengan seorang wanita yang berkepribadian ceria akan sangat mungkin memilih suami yang juga ceria bila ia memiliki Ayah yang berkepribadian ceria. Pengecualian juga bisa terjadi bila seseorang tidak menyukai orang tuanya, kemungkinan ia akan memilih pasangan hidup berkepribadian yang berbeda 180 derajat dari orang tuanya. Begitulah ternyata faktor keluarga sangat kuat mempengaruhi tipe pasangan ideal seseorang. Jadi, bila kita merasa kita cocok dengan seorang pria pendiam tetapi  ternyata yang mendekati kita cenderung ceria, belum tentu kita benar-benar cocok dengan pria pendiam loh. Kenapa tidak membuka pikiran dan memberi kesempatan para mereka?

Demikian lah sejumlah alasan ku mengubah kriteria calon suami. Menurutku kriteria mau sedetail apa pun juga belum tentu mendapatkan yang diinginkan bila ternyata Allah punya keputusan berbeda. Semua ada di tangan Nya. Membuat kriteria rumit malah akan mempersempit peluang kita dan menghalangi kesempatan pria yang mungkin dapat membahagiakan kita untuk mendekat loh. Untuk itu, mulai tahun 2014 ini, cobalah melihat dari kacamata yang lebih luas, Kawan!

Semoga bermanfaat :)

Kesimpulan dari Kelas MC

Mengikuti kelas MC di TYPSS, aku menyadari aku tidak ingin menjadi sekedar MC, aku ingin menjadi pembicara. Aku ingin jadi dikenal sebagai orang yang berpengetahuan, bukan sekedar ramah atau lucu. Untuk itu, aku harus mendalami sesuatu dan menjadi sumber pengetahuan bagi yang lain. Ya, aku harus kembali belajar! SEMANGAT 2014!