15 Reasons It’s Smarter To Get Married In Your 20s

Laila Shares:

All of these make sense! I’m a fan of Young Marriage :D

Originally posted on Thought Catalog:

US Census data and otherwise has repeatedly shown more couples are opting to marry later in life than ever before. True, there are some great reasons why a couple should wait to tie the knot: like finishing college or working overseas. But there are a lot of lame excuses being made to put off marriage like, “taking time to find yourself” or “not in an ideal financial situation.” Let’s be real — aren’t we always “finding ourselves”? Our hobbies and passions are ever changing. And when will we ever be in a great financial situation? Not any time soon with the average US student loan debt at $29,400! Some view putting off marriage as a wise decision—personally and professionally. However, there are many reasons why couples should choose to marry sooner rather than later:

Couples who marry younger are happier.

The Knot Yet Project found unmarried 20-somethings as more likely to drink excessively and suffer…

View original 1,197 more words

In My Prayers – Sapardi Djoko Damono

FOUND! Another powerful beautifully written poetry by him. Oh, how great a poet he is! I’m full of adoration of him :)

English version by John H. Mc Glynn

 

In My Prayers

 

In my prayers this morning you became the sky

which through the entire night did not close its eyes,

a clear expanse ready to receive the first light,

a curve of silence in wait of sound

 

As the sun drifted above my head,

you became in my prayers the tips of pines,

eternally green and forever presenting abstruse questions

to the wind that hisses from directions unknown

 

In my prayers at dusk you became the sparrow

that fluffed its feathers in the mist,

alighted on the branch and felled the tassel of the guava flowers

and then in sudden excitement flew away to alight on the mango branch

 

In my prayers this evening you became the distant wind

that descended ever so slowly,

tiptoed down the path and slipped through the cracks of the panes

and door to press its cheeks and lips against my hair, chin and eyelashes

 

In my prayers tonight you became the beating of my heart

that has so patiently endured what seems to be limitless pain

and faithfully revealed one secret after another,

the unending song of my life

 

I love you,

and for that reason,

will never stop praying for your well-being

Kesetiaan Seorang Wanita

Dalam hubungan masa kini, sangat lah mudah bagi pria menemukan wanita. Ya, menurut para pria, wanita itu berserakan dimana-mana. Tidaklah perlu ia bersusah payah ke luar rumah, bahkan di dalam kamar saja, sangat mungkin pria menemukan wanita untuk teman jalan di hari yang sama.

Saudariku, ingatkah di masa lalu, masa para orang tua kita jatuh cinta dulu? Ketika surat cinta laksana benda yang suci? Ketika mendapatkan ijin untuk mengobrol dengan pujaan hati bahkan hanya lewat telepon saja lebih mengerikan dibanding sidang sarjana?

Sahabatku, tidakkah kau ketahui bahwa pria hanya datang dan pergi. Seperti seorang yang datang ke pusat perbelanjaan untuk membeli sepatu. Dicobanya satu per satu sepatu sebelum dijatuhkan pilihan pada satu yang terbaik menurutnya. Lalu wanita diperlakukannya seperti sepatu yang tidak dibeli, meskipun kenangan dari pria tersebut masih membekas, tetapi sepatu itu pun ditinggalkan dan mungkin tidak akan pernah dibeli oleh siapa pun, bahkan setelah diobral!

Sebagai sesama wanita, aku sangat paham sakitnya tidak dipilih dan itu terjadi pada siapa pun di mana pun. Mungkin sudah menjadi bagian dari perjalanan cinta anak Adam di dunia ini. Secantik apapun, sekaya apapun, sepintar apapun, setiap orang pastilah merasakan pahitnya cinta karena itu bagian dari kehidupan. Lantas, apakah kita harus berhenti disini sembari menelan getirnya pil terkutuk itu?

Bersyukurlah kita diberikan otak oleh Tuhan yang harus kita gunakan dengan bijak. Disinilah peran hati dan otak yang saling melengkapi dengan bergantian menjadi perisai dan pedang melindungi satu sama lain.

Dalam hubungan, setia berarti hanya pada satu yaitu pasangan kita tanpa kita berpaling pada pihak lain. Aku tentu setuju dengan kesetiaan dalam hubungan, tetapi tidak semua hubungan itu harus kita persembahkan kesetiaan. Hubungan pernikahan tentu lah kita harus setia hingga mati, tidak ada kompromi! Namun, bagaimana dengan hubungan di luar pernikahan yang tidak ada validasi hukum agama dan negara, semisal pacaran? Bagaimana bila kukatakan bahwa kita tidak perlu setia pada pacar kita? Salahkah? Dosakah? Eh dosa, mungkinkah berdosa pada hal yang tidak ada dalam agama?

Seorang wanita telah sangat ditinggikan dalam agama Islam, bahkan surga pun ada di bawah telapak kakinya, subhanAllah! Sekarang apakah yang sebenarnya terjadi ketika seorang wanita bisa dijadikan seperti pilihan ganda dalam permainan mencari pasangan oleh seorang pria? Apakah yang salah disini? Mungkin persepsi wanita itu lah yang keliru dan harus diubah!
Sebelum seorang pria datang ke ayahmu dan meminta ijinnya untuk menikahimu, maka engkau tidaklah perlu setia pada siapa pun kecuali pada Allah, orang tuamu dan dirimu sendiri! Kenapa? Inilah dua alasan terkuatnya:

Kamu berlaku keji pada dirimu

Ketika menceburkan dirimu ke dalam hubungan eksklusif, kamu mendedikasikan seluruh pikiran, waktu, tenaga, uangmu pada satu pria yang bahkan tidak terjamin akan menikahimu! Lalu saat dia tidak memilihmu, kamu sudah pasti menyalahkan otakmu, kecantikanmu, bahkan hatimu yang membiarkanmu terjerumus ke lubang yang dalam. Kamu masih harus merangkak dengan susah payah untuk dapat kembali ke menjadi dirimu yang dahulu, yang sehat dan ceria sebelum pria itu datang dan mengubah segalanya.

Kamu tidak berlaku adil pada pria lain

Saat hidupmu hanya berputar pada satu matahari, pria itu, matamu tertutup dari matahari-matahari lainnya. Bukan berarti mereka lebih redup, tetapi kamu lah yang telah terbutakan oleh satu matahari yang kamu pilih. Haruskah ditutup pintu-pintu lainnya? Padahal pintu yang tertutup itu bisa jadi dapat membawamu ke tempat yang selama ini kamu impikan.

Saat kamu tidak berbelas kasih dan adil terhadap dirimu dan orang lain, bagaimanakah kamu berharap hidup akan berbelas kasih dan adil terhadapmu?

Marilah kita menjadi wanita yang cerdas di era modern ini. Setia lah hanya pada pria yang telah menyatakan dengan lantang di depan keluargamu bahwa ia akan menikahimu! Janganlah seperti bunga yang dihinggapi kumbang. Setelah habis dinikmati madunya, bunga itu ditinggalkan begitu saja. Sudah terlalu banyak kudengar kisah-kisah pahit. Jangan ditambah lagi ya? Lindungilah hatimu, rawat dan percantiklah ia, agar saat pria yang ditakdirkan untukmu datang, tidak ada satu cacat pun yang menodainya, buatlah pria itu menjadi pria yang paling bahagia di dunia ini dan persembahkanlah kesetiaanmu padanya, tanpa terbagi.

Dengan penuh cinta, untukmu para wanita yang kusayangi :)

I Want – Sapardi Djoko Damono

English version by John H. Mc Glynn

 

I Want

I want to love you simply in words not spoken:

Tinder to the flame which transforms it to ash

I want to love you simply in signs not expressed:

Clouds to the rain which make them evanesce

 

Other than “Rain of June”, this one is my favorite poetries of Sapardi Djoko Damono and in fact, this may be one of the most well known Indonesian poetries with the topic of Love. I love how he often used simple but powerful words. I can sense his sincerity and humility. He’s certainly one of the greatest Indonesian poets of all time!

Note: i got this english version from the qrokology and there is the awesome blog post about his poetries here

 

Red Thread

Isn’t the idea of read thread beautiful?

“Although we can’t see it, everyone has a red thread tied to their little finger and the other end of the thread is tied to the person who has the conjugal tie. However, the thread is entangled, so it is hard to find the other end. And sometimes, people just get lost. But some day, we will hold the red thread and stand in front of our conjugal tie.” – Loveholic

Then i wonder where my conjugal tie is :)

Tu Me Manques

To you…

 

My pilot

My captain

My anchor

My rock

My wings

My last harbor

My guardian

My best friend

My sparing partner

My teacher

My brother in Islam

My home

My future husband

 

“Tu Me Manques”

I’ve been waiting for you..

All my life..

Where are you?

 

I do believe

Somewhere out there

You’re answering,

“Toi Aussi”

 

One day, we’ll meet, insha Allah

Remember me in your prayer, My Imam.

 

Note:

Tu Me Manques = You’re missing from me

Toi Aussi = You’re missing from me too