Lagu Cinta MBTI

Hmm, MBTI, apakah itu? Bagi penggemar ilmu psikologi mungkin sudah akrab dengan singkatan tersebut. Untuk lebih lengkapnya silahkan dibaca sendiri ya di link ini. Informasinya sangat lengkap!

Berhubung ilmu MBTI ku masih sangat dangkal, maka dalam tulisan ini aku baru mampu mengkategorikan lagu cinta ke dalam empat kategori umum dari MBTI, yaitu Artisan, Guardian, Idealist dan Rational. Istilah yang kugunakan pun masih menggunakan istilah dalam Bahasa Inggris dari buku “Please Understand Me” nya David Keirsey.

Lagu Cinta Artisan

Bagi Artisan, cinta adalah petualangan dan kompetisi. Menjadi pasangan seorang Artisan artinya kamu akan dibawa ke dunia yang penuh keajaiban. Tipe kepribadian ini dikenal paling menyenangkan dan penuh kejutan.  Keahlian mereka adalah seni merayu. Artisan tidak berpikir rayuan adalah sesuatu yang terlarang. Mereka merayu dimana saja dan pada siapa saja tanpa maksud memiliki hubungan serius dengan orang tersebut. Keberhasilan merayu itulah yang mereka inginkan karena meningkatkan kepercayaan diri mereka.

L-O-V-E by Nat King Cole

These Words by Natasha Beddingfield

Lagu Cinta Guardian

Kamu tahu film “The Bodyguard”? Lihatlah seorang Guardian yang dengan komitmen penuh menjalankan tugasnya tanpa berkhayal mengenai rumput yang lebih hijau di pekarangan tetangga. Tipe kepribadian ini adalah suami dan istri ideal yang paling potensial membangun rumah tangga kokoh dengan memberikan totalitas diri dan stabilitas lingkungan kepada keluarganya.

I’m Gonna Be Around by MLTR

Song For You by Chicago

Lagu Cinta Idealist

Idealist adalah pemikir abstrak yang menyukai analogi, metafora dan hiperbola. Selain itu, mereka adalah pemimpi sejati. Beberapa dari mereka bahkan menggunakan “kacamata merah jambu” yang menjadikan mereka berjiwa romantis sejati. Soulmate adalah yang mereka cari. Dalam hubungan, Idealist mengharapkan pasangan yang mendengarkan dan memberikan simpati atau empati tanpa menghakimi dan memberikan saran kecuali diminta.

All About Your Heart by Mindy Gledhill

I Knew I Loved You by Savage Garden

Lagu Cinta Rational

Semua punya teman yang seperti buku ensiklopedia. Terlepas dari ilmu apa yang mereka kuasai, Rational ini senang menjadi seorang pakar. Tipe kepribadian ini menghabiskan seluruh waktu mereka untuk memperdalam ilmu mereka. Bila kita bicara tentang hubungan romantis, Rational juga mendambakannya meskipun mereka adalah yang paling tidak romantis dibandingkan tiga kepribadian lainnya. Rational suka menghabiskan waktunya menggali ide abstrak dan berkontemplasi mengenai hidup dan alam semesta. Kelompok yang sering dijuluki “kutu buku” ini menunjukkan cintanya dengan membantumu mempermudah hidup seperti memberikanmu saran logis untuk masalahmu atau sesederhana memperbaiki peralatan elektronik yang rusak tanpa kamu minta.

Supermassive Blackhole by Muse

The Scientist by Coldplay

Bersahabatlah dengan Penolakan

Di suatu kerajaan, seorang koki istana menyajikan masakan nasi goreng kambing terlezat sebagai persembahan kepada Sang Raja di hari ulang tahunnya. Namun, sangat disayangkan Sang Raja ternyata mengernyit dan mencibir saat mencicipi masakan tersebut. Akhirnya diketahuilah bahwa Sang Raja tidak suka masakan apapun yang menggunakan bahan daging kambing. Lebih jauh diketahui ternyata Sang Raja adalah penderita penyakit darah tinggi!

Apa yang terjadi selanjutnya? Sudah tentu masakan tersebut langsung dilemparkan ke tempat sampah.

Apakah itu berarti koki istana tersebut gagal memasak nasi goreng kambing terlezat? Tentu saja tidak!

Bagi para penggemar kambing atau mereka yang tidak menderita penyakit darah tinggi, nasi goreng hasil karya koki istana tersebut tetaplah nasi goreng kambing terlezat. Begitulah hukum yang berlaku di dunia ini. Baik nasi goreng kambing maupun Sang Raja tidak memiliki kesalahan apa pun. Kondisinya lah yang tidak tepat.

Bila kita renungkan kembali perjalanan hidup kita, tentulah ada saat-saat dimana kita sedang terpuruk di dasar lembah kehidupan akibat penolakan. Ragam penolakan sendiri sangat banyak. Bisa jadi kita ditolak oleh perusahaan impian, kampus impian, atau lawan jenis impian kita.

Apakah ini berarti kita tidak pantas diterima? Tentu saja tidak!

Apabila kita memang pribadi berkualitas rendah dengan pikiran dan perilaku negatif, tentu masalah ada pada kita. Pekerjaan rumah kita adalah meningkatkan kualitas diri kita.

Akan tetapi, apabila kita sudah selalu berpikiran dan berperilaku positif, tetapi masih terus ditolak, mungkin kita harus mengkaji lagi apakah tempat kita mengajukan lamaran adalah tempat yang tepat bagi kita.

Saat kita melamar pekerjaan, kita harus menyesuaikan latar belakang pendidikan dan keahlian kita dengan posisi atau bidang pekerjaan yang tersedia. Bila kita adalah seorang yang bekerja maksimal di belakang meja dengan kepribadian serius, tentu saja kita akan ditolak saat melamar sebagai customer service atau front office.

Begitu pula bila kita mendaftarkan diri untuk masuk jurusan seni rupa dan desain padahal kita tidak ahli menggambar, tentu saja kita akan langsung ditolak bukan?

Hal yang sama pun berlaku saat mengajukan diri sebagai pasangan seseorang.  Sangat penting bagi kita untuk mengetahui diri sendiri: potensi, minat, tujuan hidup kita. Apabila kita adalah seorang yang menyukai dunia literatur dan bermimpi menjelajahi dunia, kita tidak akan akan dipilih oleh seorang yang tidak suka dunia literatur, tidak suka travelling dan memiliki profesi yang harus menetap di suatu tempat hingga akhir hayatnya. Bukan berarti kita tidak menarik, tetapi kita hanya bukan pasangan yang tepat baginya. Kalaupun kita tetap memaksakan hubungan tersebut terjadi, baik kita maupun dia tidak akan bahagia. Lebih buruknya, hubungan tersebut sangat rentan dengan manipulasi dan pengkhianatan karena satu sama lain akan mencari sosok yang dapat menyeimbangkan hidupnya.

Tanpa adanya penolakan, manusia tidak akan menghargai penerimaan bahkan terhadap dirinya sendiri. Dengan mengetahui diri kita seutuhnya, kita pun akan lebih mudah menyusun strategi masa depan kita. Menentukan tujuan, memilih kendaraan, senjata dan tentu saja rekan perjalanan yang paling tepat.

Semangat selalu, Kawan!

Anak Mami? Kenali Tandanya Sebelum Terlambat!

Ada perbedaan yang jelas antara pria yang menghormati dan menyayangi ibunya dengan pria yang tidak bisa hidup tanpa ibunya atau yang biasa disebut “Anak Mami”.

Suatu hari di kantin, aku makan siang bersama 3 wanita lain dan salah satunya adalah single mother. Aku tanpa sengaja berkata, “Kalau mau bahagia, jangan nikah sama Anak Mami, semua diceritakan sama Ibunya dan kita cuma jadi orang bodoh aja yang mereka pikir bisa mereka kontrol.”. Si single mother pun tersenyum dan menanggapi, “Hehe, iya, seperti mantan suami gw dulu, pernikahan gw diobok-obok sampai akhirnya cerai.”.

Menurut psikolog Tika Bisono, anak mami bisa dibagi dalam 3 tipe (waspadai tipe ketiga, Anda sebaiknya segera mengambil sikap):

1. Anak Mami jenis pertama adalah yang memang sangat perhatian kepada sang ibu, namun masih bisa bertanggung jawab secara individu kepada wanita (calon pasangan hidupnya) atau kepada keluarganya -bagi yang sudah menikah. Dia memang masih berorientasi pada ibunya pada hal-hal domain needs, atau keperluan pribadinya, namun masih bisa mengambil keputusan sendiri pada sisi lain kehidupannya yaitu di kantor, pergaulan dan hubungannya dengan perempuan.

2. Anak Mami jenis kedua adalah pria yang tidak hanya berorientasi pada sang ibu dalam hal pemenuhan domain needs, tapi juga sudah sampai pada urusan pekerjaan. Di rumah dia sangat bergantung kepada ibunya, di kantor pun selalu minta bantuan ibunya untuk memecahkan masalah pekerjaan. Namun masih bisa mengambil keputusan sendiri, meski sesekali minta persetujuan ibunya.

3. Anak Mami jenis ketiga adalah yang out of proportion. Pria jenis ini amat sangat tergantung pada persetujuan ibunya, baik untuk keperluan pribadinya, urusan kantor, sampai pada hubungannya dengan orang lain. Pria tipe ini punya ketergantungan emosional tinggi pada ibunya. His mother always in his mind and be number one in his life.

Dibawah ini adalah ciri-ciri tersembunyi pria tipe Anak Mami:

  1. Persetujuan Ibu. Dia selalu berusaha memenuhi keinginan ibunya, bahkan untuk hal yang muskil sekali pun, seperti ingin tahu posisi anak setiap saat. Ini akan berpengaruh pada hubungannya dengan perempuan lain. Kecenderungannya, pria tipe ini sangat sulit untuk membuat keputusan bersama pasangan tanpa persetujuan ibunya. Sehingga dengan kata lain, akan selalu ada orang ketiga di antara Anda dan pria tipe ini dalam mengambil setiap keputusan. Sanggupkah Anda menanggungnya?
  2. Selalu Dilayani. Hidupnya selalu dipermudah dengan adanya sang ibu yang siap sedia membantu dan menyediakan segala keperluannya, dari mulai membersihkan kamar, memasakkannya makanan, mencuci peralatan bekas makannya bahkan sampai mencucikan pakaian dalamnya. Kalaupun bukan sang ibu yang turun tangan sendiri, pasti ada pelayan yang telah disiapkan oleh sang ibu untuk melayani semua kebutuhannya.
  3. Tak Ada Rahasia. Ciri lain anak mami adalah tidak ada rahasia antara dirinya dan ibunya, bahkan sampai urusan yang privat sekali pun. Memang ada tipe lelaki yang sulit membicarakan hal-hal intim dengan pasangannya. Namun bila sampai seorang lelaki menceritakan masalah intim kepada ibunya ketimbang dengan pasangannya, pikir-pikir dulu deh, bila akan melanjutkan hubungan dengan tipe pria ini.

Sebagaimana aku percaya setiap makhluk diciptakan berpasangan, aku pun percaya ada wanita jenis tertentu yang dengan alami menyukai Anak Mami. Aku sendiri sebenarnya selalu kagum pada pria yang memprioritaskan Ibunya. Hanya saja, bila Ibunya ikut dalam setiap aspek hubungan ku dengan anaknya, itu sudah tidak menyenangkan lagi. Bila setiap keputusan, bukan diambil berdua, tetapi bertiga, tentu akan membuat frustasi.

Aku ingat perkataan Mamaku, “Nak, seorang wanita sangat berbeda bila menjadi mertua, apalagi kepada menantu wanitanya. Mertua akan banyak menuntut.”. Maksud Mama, seseorang bila tidak ada kepentingan pribadi akan baik terhadap kita, tetapi kita tidak dapat bayangkan seperti apa dia saat kita menyinggung kepentingan pribadinya, terutama pangeran kecil yang harusnya sudah dia relakan bertualang meninggalkan kenyamanan istananya.

Ladies, masih yakinkah untuk melanjutkan hubungan dengan Anak Mami?

Sumber:

http://drise-online.com/cowok-anak-mami.htm

http://female.kompas.com/read/2008/09/02/10384316/bila.mencintai.pria.anak.mami

Kenapa Beberapa Orang Mengalami Kisah Cinta Dramatis?

Sederhana saja, mereka tidak berhitung. Jawabanku dingin dan terlalu logis ya? Tetapi memang itulah kenyataannya. Akan kubuktikan dengan beberapa contoh kasus berikut ini:

  1. A dan B menganut agama berbeda. Tentu untuk menikah akan menghadapi banyak halang rintang. Solusinya: pindah agama (ada yg dikorbankan), menikah beda agama (controversial) atau berpisah .
  2. A dan B masih sekolah atau kuliah. Pihak pria belum punya penghasilan tetap, masih senang nongkrong atau hura-hura, kalau pun ada rumah atau kendaraan pasti subsidi orang tua. Tentu saja mereka akan terbentur dengan pertanyaan, “Mau sampai kapan seperti ini?”. Solusinya: pria selesaikan kuliah dan cari pekerjaan (wanita terus digantung) atau berpisah (wanita cari pria yang sudah mapan)
  3. A dan B bertemu di tempat kerja yang melarang pegawainya menjalin cinta. Solusinya: salah satu pindah tempat kerja atau berpisah. Biasanya meskipun salah satu memilih pindah tempat kerja, pihak yang tertinggal pasti akan sulit juga melanjutkan karena mungkin malu dengan rekan-rekan dan atasan di kantor atau sulit “move on” karena kantor berubah jadi monumen cinta.
  4. A adalah murid dan B adalah guru. Padahal sudah tahu ini melanggar etika dalam masyarakat. Lagi-lagi hati akan dijadikan kambing hitam. Katanya kalau sudah urusan hati, otak tidak lagi berfungsi dengan benar. Sudah pasti orang tua murid akan menentang. Si guru juga akan mendapat kesan negatif. Akan muncul pula kecemburuan dari murid-murid lain karena tentu sulit bagi si guru untuk menjadi objektif dalam proses belajar mengajar terutama dalam pemberian nilai atau ketika memberikan sangsi. Solusinya: A dan B merahasiakan hubungan mereka hingga murid lulus atau berpisah.
  5. A dan B memiliki hubungan yang ditentang orang tua karena berbagai macam alasan. Solusinya: tetap kekeuh meyakinkan orang tua atau berpisah. Bila hanya salah satu orang tua yang tidak setuju, mungkin masih bisa diusahakan. Namun, bila kedua orang tua bahkan saling bermusuhan atau diam-diam tidak suka, itu akan jadi masalah tiada akhir. Bahkan ketika sudah menikah, kedua orang tua yang pada dasarnya memang tidak saling menyukai akan cenderung memberikan solusi subjektif yang mempersulit melanggengkan pernikahan.
  6. A dan B masih memiliki hubungan darah. Entah paman dengan keponakan atau saudara sepupu. Selain akan mendapat pandangan miring masyarakat juga berisiko tinggi pada keturunan mereka yang bisa jadi terlahir cacat karena sisi negatif dari kombinasi biologis dan kimiawi A dan B. Itulah mengapa dianjurkan mencari pasangan yang tidak sedarah.  Solusi: berpisah.
  7. A dan B adalah hakim dengan tersangka, atau pencuri dengan polisi, atau majikan dengan pembantu, atau masih banyak contoh kasus lainnya.

Apakah kesamaan dari semua kasus di atas? Tentu kasus-kasus tersebut sebenarnya dapat dihitung hasil akhirnya. Sudah jelas sebaiknya dihindari, kok masih diteruskan? Tidak mengherankan, banyak orang mengalami kisah cinta dramatis karena ternyata mereka sendiri juga yang menginginkan hidup mereka dramatis.

Sungguh, kisah cinta yang paling indah bukanlah kisah penuh air mata, pertengkaran dan saling menyakiti melainkan kisah yang menenteramkan hati dan membawa kebahagian. Saat dimana A dan B saling menghormati keluarga masing-masing. Saat keluarga kedua belah pihak saling mendoakan kelanggengan pernikahan A dan B. Saat cinta A dan B selalu dilimpahi rahmat Sang Pencipta dan mendatangkan manfaat bagi orang-orang disekitarnya.

10 Sebab Hubungan Harus Berhenti Sejak Dini (Versi Laila)

Di umurku yang hampir seperempat abad ini, aku masih saja lajang. Tidak heran banyak orang disekitarku sering mempertanyakan pilihanku ini. Beberapa bertanya secara frontal, beberapa diam-diam mencari tahu dari teman-teman dekatku, beberapa yakin aku menjalin semacam “backstreet relationship”.

Begini loh, bukannya aku tidak tertarik dengan hubungan cinta, tetapi aku menganggap proses pencarian Si Satu ini adalah suatu yang sakral. Memutuskan untuk jalan dengan seorang pria apalagi memulai hubungan cinta adalah sesuatu yang harus kupikirkan serius, bahkan harus melewati berbagai tahap seleksi.

Berikut beberapa sebab hubungan cinta harus kuhentikan sejak dini:

  1. Berbeda keyakinan: kadang ketika kita sangat tertarik pada seseorang, kita bisa jadi lupa bahwa dia berbeda keyakinan dari kita. Dia bisa saja memiliki semua yang kita cari, tetapi satu hal ini tentu akan menjadi ganjalan utama di kemudian hari. Belum lagi bila menyangkut urusan keluarga besar. Bagiku, ini menjadi suatu problema. Ada suatu ketakutan bahwa bila akhirnya dia memilih masuk agamaku, dia tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Nanti kalau kami sudah membina keluarga, aku takut harus berjuang sendirian. Terutama dalam mendidik anak-anak kami kelak. Aku butuh rekan pendidik, bukan tambahan anak didik.
  2. Sudah memiliki pasangan: di awal perkuliahan, aku bertemu seseorang yang berbeda fakultas denganku. Dia memang menarik dan kami merasakan banyak kecocokan. Akan tetapi, dia ternyata sudah memiliki pasangan. Ini menjadi satu hal yang tidak dapat kuterima. Untungnya, suatu hari ketika dia meneleponku, ternyata telepon selularku dialihkan ke telepon rumah. Papaku lah yang mengangkat telepon itu. Sepertinya seorang pria labil di usia akhir belasan itu langsut susut nyalinya, hahahaha. Setelah kejadian itu, kami masih bertemu tanpa sengaja, tetapi api itu sepertinya sudah padam.
  3. Tidak sholat lima waktu: setelah lulus kuliah, aku menggeluti ilmu jurnalistik. Disanalah aku bertemu seseorang. Dia sangat menarik. Dia memiliki hampir semua yang kucari, tetapi satu hal penting tidak dimilikinya, yaitu menjalankan sholat lima waktu. Pertama kali kutahu adalah ketika aku dan dia serta seorang teman lain pergi melihat suatu pameran. Aku mengajaknya sholat. Pertama dia bilang musholanya penuh, jadi dia akan menunggu hingga sepi. Kemudian setelah aku selesai sholat, aku bilang kalau mushola tidak penuh. Dia masih tidak mau dan akhirnya dia bilang dia absen sholat dulu. Hah? Memang dia kira seperti di sekolah? Kami masih bertemu beberapa kali setelah itu, tetapi dia selalu tidak sholat. Perlahan rasa ketertarikanku padanya pun memudar. Terakhir kali aku mengajak dia serta beberapa teman terdekatku ikut suatu workshop. Anehnya, aku tidak ingin memperkenalkan teman-temanku itu padanya. Mungkin karena aku memang tidak yakin untuk memasukkannya dalam kehidupan pribadiku.
  4. Merokok: ada seorang pria menarik yang selalu jadi temanku dalam membahas berbagai hal, terutama topik kepribadian dan hubungan. Sudah menjadi obsesiku untuk memperdalam ilmu itu. Sayangnya, dia perokok berat. Aah, Kakekku meninggal karena kanker paru-paru dan Papaku tidak pernah merokok. Masih jadi halangan bagiku untuk membuka hati pada para perokok yang menzalimi tubuhnya itu.
  5. Sindrom Peter Pan: aku agak heran. Beberapa pria yang dekat denganku ternyata memiliki gejala sindrom Peter Pan. Itu loh, pria-pria yang tidak pernah benar-benar dewasa. Selalu berlindung di bawah ketiak ibunya. Dulu, aku suka berperan sebagai ibu atau kakak perempuan atau penyuluh dalam hubunganku dengan lawan jenis. Namun ternyata itu menjadi masalah tersendiri. Aku lelah harus selalu jadi yang mengayomi sementara pria-pria itu terus menerus menuntut perhatian yang biasa mereka dapatkan dari ibu mereka. Aku kan juga ingin diperhatikan dan mendapat tempat berlindung.
  6. Terlalu cuek: pria-pria sangat pintar yang sibuk dengan hobinya dan cenderung dingin terhadap wanita memang selalu menarik. Mereka seperti magnet bagi diriku yang imajinatif dan petualang ini. Pertama kali mereka menunjukkan ketertarikan padaku, rasanya seperti mendapat piala. Apalagi bila banyak wanita di luar sana berlomba ingin mendapatkan perhatian mereka. Namun, seringnya mereka lebih cinta akan hobi dan selalu tenggelam dalam dunia sempit mereka. Tidak sedikit pula dari mereka yang tidak paham cara bersosialisasi yang benar. Aku harus selalu berperan jadi jembatan mereka dengan dunia luar. Ini lama kelamaan melelahkan. Apalagi orang-orang terdekatku pun ternyata merasa terganggu.
  7. Jorok: dalam artian sebenarnya. Berkeringat, bau, kuku panjang dan hitam, rambut lepek, baju lecek. Aaaaah benar-benar tidak ada harapan. Meskipun beberapa orang berpikir pria wajar seperti itu karena tidak ada yang mengurus. Nanti kalau sudah menikah pasti bersih. Idiiih, bagiku tidak begitu. Amit-amit deh. Kami kan nanti akan punya anak dan harus mengurus rumah. Masa’ aku harus menambah mengajarkan kebersihan pada satu “anak” lagi padahal seharusnya dial ah yang mengajarkan itu pada anak-anak kami kelak.
  8. Manja: ada beberapa pria yang kukenal memiliki sifat manja yang sangat menyebalkan. Dia sulit sekali mengambil inisiatif, kalau pun ada pasti hasilnya tidak maksimal yang berakhir malah mempersulit keadaan. Pria ini juga pintar sekali mendelegasikan tugas-tugasnya alias pintar nyuruh-nyuruh. Paling parahnya, pria ini jeli sekali melihat sisi buruk dari berbagai hal. Hidupnya selalu mengeluh seakan apa yang dia alami paling berat. Ada beberapa pria berapa pun umurnya masih mencari pertolongan pada ibunya. Padahal si ibu juga banyak beban, ditambah lagi bebannya dengan beban si anak yang tidak dewasa ini. Patah hati saja sudah nangis-nangis, sementara orang lain di luar sana bahkan tidak tahu bisa makan apa tidak atau baru saja kehilangan keluarganya akibat bencana alam.
  9. Temperamental: disulut sedikit langsung meledak. Seakan dunia hanya berputar pada dirinya. Tidak peduli efek negatif yang dia sebabkan setelah ledakannya itu. Apakah ada hubungan yang rusak karenanya? Apakah ada orang lain yang kepentingannya harus dikorbankan? Apakah ada orang yang sakit hati? Pria-pria yang temperamental ini bisa marah dimana saja dan kapan saja. Dia tidak memiliki pertimbangan matang dari apa yang dilakukannya. Lebih parah bila sifat temperamental ini ditambah dengan sifat pendendam. Sudah kena semprot, korbannya harus menanggung siksaan batin dicuekin berhari-hari padahal belum tentu masalah itu sepenuhnya kesalahan si korban. Terbayang jelas kan kehidupan bagai neraka di masa depan kelak bila harus hidup bersama pria-pria seperti ini?
  10. Boros: baru gajian langsung mikir mau makan-makan, nonton film, karaoke, belanja, nonton konser, intinya hidup hanya untuk senang-senang. Pria-pria yang tidak memiliki kesadaran finansial. Hidupnya hanya dihabiskan untuk menikmati kesenangan yang bersifat sementara. Bukannya uang digunakan untuk investasi agar mencapai kebebasan finansial di hari tua, dia malah sibuk cuci mata di internet atau pusat perbelanjaan dan memikirkan untuk upgrade penampilan setiap bulan. Dapat diramalkan bila nanti dia menikah, dia hanya akan sibuk berpikir hal-hal remeh jangka pendek. Selamat menikmati perjalanan penuh kekecewaan batin bersama Si Boros!

Aku sangat tahu, setiap orang tentu memiliki pemikiran berbeda dariku. Bisa jadi hal yang menjadi ganjalanku ternyata menjadi pemulus hubungan pada pasangan lain. Satu hal yang harus selalu kita ingat, “Bila kita berpikir dapat mengubah seseorang, ingatlah betapa sulit kita mengubah diri kita sendiri.”. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari ketika kita sadar pasangan kita akan terus berperilaku sama dan akan menambah penderitaan batin kita. Kita harus tegas sejak awal hubungan, sehingga kekeliruan tidak berlanjut dan kita dapat bebas mencari yang lebih sesuai dengan kita.

Jangan pernah menyerah mencari Si Satu, Kawan!

Ibu Bekerja atau Ibu Rumah Tangga?

Sekitar dua tahun silam, salah seorang temanku ingin sekali memperkenalkanku dengan seorang pria. Menurut temanku, pria itu adalah pria yang sangat cocok untuk menjadi pendamping hidupku. Pria itu memiliki semua yang dibutuhkan kebanyakan wanita yang ingin memulai keluarga. Namun, ada satu hal yang mengganjal dalam hatiku. Dari sejumlah persyaratan untuk menjadi istrinya, ada satu syarat yang tidak dapat kupenuhi: “Istrinya kelak tidak boleh bekerja”. Sejak dulu, aku selalu kagum dengan kehandalan manajemen para ibu rumah tangga. Akan tetapi, suatu perasaan aneh tiba-tiba muncul dan bergejolak di dalam dadaku. Ini membuatku resah.

Aku ceritakan hal ini pada semua orang terdekatku. Seseorang berkata, “Yaaa itu kan bisa dinego lagi”. Aku sempat juga menceritakan ini pada Mama dan adikku. Mereka juga bilang, “Yaa dicoba saja.”. Tetap hatiku tidak juga merasa tenteram. Oke, mungkin kebanyakan wanita akan dengan mudah memasuki masa percobaan, tetapi bagiku, hubungan harus serius atau tidak perlu ada hubungan sama sekali. Aku selalu melihat pernikahan sebagai suatu hal yang sakral. Aku enggan menghabiskan waktuku untuk melakukan percobaan dengan seorang pria yang bahkan belum tentu menjadi suamiku kelak. Satu hal yang kutahu pasti, sesuatu yang sudah mengganjal dari awal merupakan bendera merah.

Dengan berbagai cara, kucoba untuk menolak tawaran temanku secara halus. Bukankah dengan aku menolak untuk memasuki masa percobaan akan membuka peluang bagi wanita yang lebih sesuai baginya?

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Pembahasan mengenai pria itu akhirnya menghilang seiring berjalannya waktu. Hingga akhirnya aku berada di tengah percakapan seru di internet dengan seorang pria yang telah lama kukenal. Kami memang sudah sering membincangkan berbagai hal seputar agama, manusia, hubungan dan psikologi. Sekian tahun mengenalnya, aku tahu pria ini adalah pria yang langka. Meskipun umurnya lebih muda dariku, dia memiliki pengetahuan dan daya analisis yang bahkan beberapa tingkat diatasku. Minatnya dengan humaniora membuatnya ingin menjadi seorang pakar psikologi. Perbincangan dengannya tidak pernah membosankan dan kami selalu menemukan berbagai topik baru untuk dibahas.

Percakapan kali ini dimulai dengan ceritaku tentang pekerjaanku yang memang tidak ada habisnya.
Aku: “Ya, pekerjaanku sangat banyak, tetapi aku belajar banyak. Kamu tahu kan aku masih lajang dan muda. Bukan berarti aku tidak setuju dengan menikah muda, pastinya. Aku mengagumi para ibu rumah tangga, tetapi aku tidak ingin menghabiskan masa mudaku. Kamu pasti paham kan maksudku?”
Dia: “Tentu saja! Dan menurutku kamu tidak seharusnya menjadi ibu rumah tangga. Kamu sangat berbakat dalam banyak hal.”
Aku : “Kenapa? Apakah kamu tipe pria yang mendukung ibu bekerja?”
Dia: “Ini tentang prioritas. Pekerjaan sendiri bukan hal yang salah. Wanita harus merawat anak-anaknya dan bila dia mampu mengatur waktunya dengan baik, dia boleh saja bekerja.”
Aku: “Subhanallah, kamu berpikiran sangat terbuka.”
Dia: “Tentu saja kita harus berpikiran terbuka. Sudah terlalu lama wanita dikekang. Aku senang melihat wanita mengalami perkembangan positif. Islam juga membolehkan wanita untuk bekerja dan menghasilkan uang sebanyak pria. Namun, tentu saja wanita itu harus memegang teguh nilai-nilai agama dan moral. Dia juga tidak boleh meninggalkan kewajibannya sebagai istri dan ibu.”

Kalimat terakhirnya seakan menjadi jawaban dari suatu pertanyaan yang sudah dua tahun bersemayam di dalam kepalaku dan mengganjal hatiku: Kenapa aku sangat terganggu dengan satu persyaratan itu: “Istrinya kelak tidak boleh bekerja”? Tadinya kupikir mungkin aku sudah teracuni dengan pola pikir barat yang cenderung berpihak pada kaum feminis. Aku mendengar hatiku sendiri berkata dengan tegas, “Kalau nanti aku menjadi ibu rumah tangga, aku ingin itu menjadi keputusanku sendiri. Bukan suatu keharusan dari suamiku.”.

Sekarang aku paham, seorang pria yang menyayangi istrinya tidak akan menghalangi istrinya untuk mengalami kemajuan. Seorang wanita yang progresif harusnya didukung penuh oleh suami. Bila memang wanita itu memiliki kemampuan lebih dari wanita-wanita lain dalam mengatur waktu, tenaga, uang, mengapa tidak? Apalagi bila ternyata perannya dalam masyarakat dapat memberikan dampak luar biasa bagi kemajuan umat. Seorang wanita muslim tidak seharusnya lekat dengan imej terkekang. Meskipun kelak memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita muslim harus terus mengikuti semua perkembangan agar pola pikirnya tidak terlindas roda jaman yang berputar kian kencang.